eng
competition

Text Practice Mode

Hiperrealitas

created Mar 28th, 14:00 by MuhamadRizky1


1


Rating

1366 words
4 completed
00:00
Sesekali wajahnya lenyap di balik kepulan asap rokok yang ia embuskan. Ia seorang lelaki tua. Bahkan terlalu tua untuk bisa tetap hidup sambil menghisap rokok dengan usianya yang, barangkali sudah mencapai  tujuh, delapan, atau sembilan puluh tahun. Secara keseluruhan, ia sama sekali tak jauh berbeda dengan tengkorak utuh. Yang membedakannya hanyalah kulit keriput yang masih melekat di tubuhnya.  Ia menempati salah satu meja tepat di seberang tempatku berada. Aku mengamatinya seperti seorang arkeolog mengamati fosil tengkorak yang ditemukan di sebuah situs bersejarah.
 
    Saat pandangan kami saling bertemu, ia membuat satu gerakan kecil. Menepuk-nepukkan telapak tangannya ke meja tanpa melepaskan pandangannya terhadapku. Sebuah isyarat agar aku mengahampirinya. Aku mencoba meyakinkan dengan menunjuk diriku sendiri. Ia mengangguk.
 
    Sebetulnya aku menyesal telah mempunyai gambaran akan dirinya yang mirip dengan tengkorak hidup. Sebab, saat aku duduk tepat di hadapannya, entah bagaimana, perasaan ganjil sekelebat muncul dalam benakku. Aku merasa, ia tak lain adalah diriku sendiri yang sudah lama dipelihara waktu. Perasaan ganjil itu pula yang membuatku untuk tidak berusaha mengetahui lebih jauh tentangnya. Bahkan hanya untuk sekadar mengetahui namanya. Aku merasa ngeri jika harus menggali lebih jauh informasi tentangnya, aku akan di hadapkan pada suatu kebetulan yang memang menyatakan bahwa ia memanglah diriku sendiri. Tentu saja, hal yang demikian itu memiliki peluang yang nyaris nol untuk terjadi. Tapi tetap saja, sesuatu yang mungkin terjadi di setiap dunia yang mungkin, adalah keniscayaan.
 
    “Kau adalah pengunjung pertama,” kata lelaki tua itu memecah keheningan, “sejak pertama kali dibukanya kafe ini,” sambungnya.  
 
Sekarang aku tahu, bahwa ia pemilik dari kafe ini. Dan fakta bahwa aku tak mempunyai sedikit pun keinginan membangun sebuah kafe di masa tua nanti, cukup untuk meyakinkan bahwa ia bukanlah diriku.
 
    “Kiranya, sejak kapan tuan mendirikan kafe ini?” tanyaku penasaran.
 
    “Kafe ini? didirikan?” ia menaikkan salah satu alisnya, “sejak kau memasukinya, tentu saja.” Ia terkekeh dan aku mengernyitkan dahi.
 
Sungguh, aku tak  paham  sedikit pun yang ia maksud dengan jawabannya itu. Mungkin ia hanya sedang berkelakar untuk menghidupkan suasana. Atau boleh jadi, ia memang seorang lelaki tua yang gila.  
 
    Memang, sejak pertama kali aku memasuki ruangan kafe ini, perasaan-perasaan yang ganjil kerap kali muncul. Seperti suasana ruangannya yang sunyi senyap. Seolah-olah kafe ini hanya sebuah ruang tanpa waktu. Kemudian, sosok lelaki tua yang tak lain adalah si pemilik kafe, yang membuatku merasa ia adalah diriku sendiri. Dan yang terakhir, jawaban yang ia berikan atas pertanyaanku.
 
Aku bisa saja dengan segera keluar dari kafe ini. Meninggalkan secangkir kopi yang belum kuhabiskan, kemudian melangkah pulang atau mencari kafe lain yang tampak lebih wajar untuk membuatku tetap terjaga sampai dini hari nanti. Tapi semua itu sia-sia belaka. Ada semacam kekuatan yang menahanku untuk tetap berada di dalam kafe ini. Duduk bersama lelaki tua yang aneh dan mengahabiskan waktu--jika itu memang ada di ruangan ini--bersamanya sampai entah.  
Aku mencoba untuk menenangkan diriku sendiri. Menyikapi setiap perasaan ganjil yang muncul ini semata hanya karena aku sedang mengantuk. Ya, aku yakin, ini hanya persoalan sepele semacam itu. Aku mengantuk.  
 
    “Hei, anak muda,” ia menjentikkan rokoknya, “rupanya kau mengantuk.” Ia menduga.
 
    “Sepertinya demikian tuan,” jawabku.
 
    “Satu cangkir kopi lagi, barangkali bisa mengatasi kantukmu itu,” ia menyarankan. Kemudian ia melambaikan tangannya ke arah pelayan. Pelayan itu menghampiri meja kami.
 
    “Satu cangkir saja,” perintahnya kepada pelayan itu. Pelayan itu mengangguk. Kemudian melengos pergi menuju dapur di balik meja pelayan.
 
    Lebih kurang lima menit, pelayan itu muncul kembali dengan nampan dan satu cangkir berisi kopi di atasnya. Ia berjalan dengan hati-hati. Melintasi beberapa meja kosong sebelum sampai di meja kami. Ia meletakkan cangkir kopi tersebut di meja kami. Si lelaki tua mengucapkan terima kasih. Si pelayan tersenyum. Kemudian kembali ke tempatnya semula.  
 
    “Gratis,” katanya, sambil menyodorkan cangkir itu ke arahku.
 
    “Ah, terima kasih tuan,” ucapku atas kebaikannya, “jadi merepotkan begini.” Lelaki tua itu hanya tersenyum.
 
    Sebab kebaikan dan keramahannya terhadapku, sekalipun itu hanya berupa secangkir kopi gratis, perlakuannya tersebut kini mampu mengaburkan perasaan-perasaan ganjil yang sebelumnya kurasakan sebelumnya pada lelaki tua dan kafe ini. Dan itu semua membuatku berani memulai obrolan lebih dulu dengan satu pertanyaan, “Apa tuan hanya punya satu orang perkerja?”
 
    “Ya,” jawabnya. “Hanya dia seorang. Ia adalah cucuku,” matanya melirik ke arah cucunya tersebut. “Ia sangat menyukai sepakbola,” sambungnya.
 
Aku menerka bahwa ia akan bercerita dengan mulut yang berbusa-busa yang tak tak tahu kapan harus berhenti saat ia menceritakan perihal cucunnya dan kesukaannya akan sepakbola, kemudian ia bercerita tentang masa lalunya, tentang bagaimana ia menjalani kehidupan sewaktu muda, tentang persahabatan, cinta, perang, dsb, dst, dll. Dan aku keliru. Ia justru bertanya padaku, “apa kau juga  menyukai sepakbola?”
 
    Tentu saja aku mengiyakan. Lebih lanjut, kukatakan padanya bahwa alasanku datang ke kafenya tak lain adalah upayaku untuk membuat diriku tetap terjaga. Sehingga aku tak melewatkan pertandingan final piala dunia dini hari nanti. Sebab, aku tak pernah bisa membuat diriku tetap terjaga melebihi jam 12 malam di rumahku sendiri.  
 
    “Kau datang menuju kafe yang tepat,” katanya sambil tertawa kegirangan dan diakhiri oleh batuknya. Air mukanya kembali serius.  
 
    “Apa kau sungguh-sungguh menyukai sepak bola?” ia mengulangi pertanyaannya dengan tegas.
 
    “Dengan sangat,” jawabku lebih tegas.
 
    “Baiklah, kuberitahu kau perihal sepakbola yang mungkin tak kau sadari tentangnya.” Ia menyandarkan punggungnya pada kursi. Wajahya tengadah ke arah langit-langit kafe, menghisap rokok, mengembuskan asapnya, kemudian kembali menatapku dengan sorot mata yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.  Ia tampak lebih hidup kali ini. Ia melanjutkan perkataannya.
 
    “Tanggal 24 Juni 1937 adalah hari terakhir sepakbola dimainkan di Buenos Aires. Sejak saat itu sepakbola, dengan seluruh aspek olahraga di dalamnya, menjadi bagian dari drama, dimainkan oleh satu orang dari dalam bilik, atau oleh aktor berkaus seragam dan direkam kamera TV.”[1]
 
    “Bukankah sepakbola memang demikian?” sanggahku naif, “maksudku, sepakbola memang hanya sebuah drama, kan? ia tak pernah benar-benar dimainkan. Sekalipun oleh aktor berkaus seragam seperti yang kau katakan. Bahkan oleh manusia seperti kita ini.”
 
    “Aku sudah menduganya kau akan berkata seperti itu,” tukasnya sambil menganggukkan kepalanya. Kemudian ia mengambil nafas panjang dan memulai khotbahnya:
 
    “Sepakbola, di zamanmu yang sekarang ini memang tak lebih dari sebuah drama. Bahkan jauh lebih buruk dari itu. Semua yang kau saksikan di layar TV, yang sekarang kau sebut itu sebagai sepakbola, hanyalah sebuah simulasi. Semuanya, hanyalah kecerdasan buatan yang tersusun atas algoritma-algoritma yang sedemikian rupa sehingga tampak amat sangat nyata. Kesebelasan yang sedang bertanding, para pemain yang saling berebut bola, pemain yang meliuk-liuk melewati para lawannya, keputusan pemain yang bergerak mencari posisi yang tepat, bahkan wujud para pemain itu sendiri, hanyalah kecerdasan buatan semata. Kemenangan sebuah tim atas tim lainnya, sekarang ini ditentukan bukan atas kecerdasan sang pelatih. Melainkan, sehebat apa seorang ahli komputer menciptakan algoritma-algoritma bagi timnya tersebut.” Ia mengambil jeda untuk menghisap rokoknya dan melanjutkan kembali khotbahnya.
 
    “Ya, ya, aku tahu, kau lebih paham bagaimana sepakbola berjalan di zaman yang sekarang ini. Tapi, apa kau tahu bahwa sepakbola pernah dimainkan juga oleh manusia? Ya, manusia. Bukan sekumpulan robot cerdas. Sepakbola sebagai sebuah permainan. Bukan hanya sekadar tontonan. Kau berlari menggiring sebuah bola, meliuk-liuk melewati lawanmu, mengumpan pada temanmu, kemudian kau berlari mencari satu posisi yang tepat di daerah kotak pinalti untuk bisa mencetak sebuah gol, dan ketika temanmu mengoper kembali bola itu kepadamu, sepasang kaki menghantam tulang keringmu.  Kau roboh. Kau terguling-guling di atas lapangan, kedua tanganmu memegangi tulang keringmu, bulir-bulir peluh mengalir dari sekujur tubuhmu dan kau merasa kesakitan. Apa kau pernah merasakan sensasi semacam itu sepanjang hidupmu?”
 
    Aku bergeming. Semua yang ia katakan, membuat kepalaku seperti dihantam sebuah palu. Lebih-lebih pertanyaannya yang terakhir, aku nyaris semaput mendengarnya.
“Hei, anak muda, yang menyukai sepakbola dengan sangat. Kuulangi pertanyaanku,” nadanya mengejek, “apa kau pernah merasakan sensasi semacam itu sepanjang hidupmu?”
 
Mulutku masih saja terkatup. Tak tahu harus menjawab apa.
 
Seumur hidupku, tak pernah sekalipun aku bermain sepakbola. Bahkan sekadar hasrat untuk memainkannya pun, tak pernah terlintas barang sekelebat dalam benakku. Dan itu tak hanya terjadi dalam diriku, melainkan semua manusia. Aku meyakini itu. Tapi entah bagaimana, ocehan lelaki tua itu soalah membangunkan kesadaran yang sudah lama tertidur dalam diriku. Satu kesadaran yang dimiliki manusia sejak tahu bagaimana cara untuk berlari. Kesadaran untuk bermain sepakbola. Di lain sisi, rasanya tak mungkin sekarang ini untuk memainkan permainan tersebut. Tak ada ruang dan fasilitas publik yang pantas untuk dijadikan sebagai sarana untuk bermain sepakbola. Tak ada stadion seperti yang sering aku lihat di TV. Bahkan hanya sekadar lapangan terbuka pun, tak pernah aku menjumpainya.  
 
Bersambung...
 
 
 

saving score / loading statistics ...